Ada Aksi Hambur-hambur Uang di Kampanye Paket Cahaya, Lokasinya Dekat Kantor Bawaslu

hendra nudin

Publishare.id- Momen Kampanye pamungkas yang seharusnya menjadi ajang sosialisasi visi dan misi pasangan Calon Bupati Thariq Modanggu, dan Calon Wakil Bupati Nurdjanah Yusuf Hasan di Desa Molingkapoto, Kecamatan Kwandang, Selasa (15/4/2025), justru mempertontonkan aksi lempar-lempar duit yang dinilai mencederai proses demokrasi Pilkada di Bumi Gerbang Emas Gorut.

Bahkan yang sangat mengherankan, aksi hambur-hambur uang yang terjadi di Lokasi kampanye itu terjadi di Dekat Kantor Bawaslu Gorut yang merupakan pihak yang paling berwenang mengawasi proses demokrasi Pilkada Gorut.

Sekretaris DPD NasDem Gorut, Hendra Nurdin, saat diwawancarai mengaku, sangat menyayangkan adanya aksi lempar-lempar uang yang dilakukan salah satu pendukung paket Cahaya di tengah kerumunan orang.

“Jujur saya pribadi sangat menyayangkan adanya aksi seperti itu, aksi seperti itu sangat merusak proses demokrasi kita,” kata Hendra Nurdin.

Menyikapi aksi lempar-lempar uang di kampanye paket Cahaya, Hendra Nurdin akan melaporkan aksi tersebut ke pihak Bawaslu.

” Saya besok insyaallah akan laporkan ini ke pihak Bawaslu, pasca kejadian tadi saya langsung konfirmasi ke Bawaslu, kata orang Bawaslu, orang yang hambur-hambur duit itu orang dari luar Gorut,” ujar Hendra Nurdin.

Kepada pihak Bawaslu, Hendra berharap, agar menindaklanjuti hal ini sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

“Kampanye ini lokasinya sangat dekat dengan kantor Bawaslu, kok bisa Bawaslu tidak bisa bertindak? Saya juga heran, ini kan kejadiannya bukan laporan kalau di kampanye itu ada aksi itu, kalau menurut saya, aksi itu bisa kategorikan sebagai temuan yang bisa segera di proses, karena aksi itu terjadi tepat di hadapan para Panwas yang hadir dilokasi kampanye,” terang Hendra.

Aksi Hambur-hamburnuang di Kampanye Paket Cahaya, Selasa (15/4/2025).

Sebagai pihak yang paling berwenang, lanjut Hendra, Bawaslu harus punya langkah-langkah pencegahan terhadap hal-hal yang demikian agar tidak terjadi lagi, kalaupun tidak ada kepastian, pasti akan ada upaya masyarakat menegakkan aturan sendiri karena lembaga yg berwenang saja terlihat lemah dan tidak berdaya.

“Peristiwa ini juga sebagai isyarat bahwa pasti akan terjadi hal yg sama yang akan dilakukan di minggu tenang, ini karena didepan publik saja ada tindakan yg berani melanggar aturan,” pungkas Hendra.

Respon (2)

Komentar