Selama Kemarau Damkar Gorut Atasi 31 Kasus Kebakaran 

Damkar Gorontalo Utara

Publishare.id— Musim kemarau menjadi ujian tersendiri bagi personel Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Gorontalo Utara. Ketika sebagian masyarakat memilih berteduh dari teriknya matahari, para petugas justru harus siaga, berpacu dengan waktu setiap kali sirene dan laporan kebakaran masuk.

Dengan kekuatan hanya 23 personel operasional. Damkar Gorontalo Utara tetap bergerak cepat menghadapi puluhan kejadian kebakaran yang terjadi sepanjang musim kemarau 2026.

Data Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Gorontalo Utara mencatat, hingga 6 September 2026, sedikitnya 31 kejadian kebakaran telah ditangani petugas.

Angka tersebut belum termasuk sejumlah kebakaran bangunan. Pada Agustus 2026, misalnya, satu kejadian menyebabkan tiga rumah terbakar. Memasuki September, petugas kembali harus berjibaku menangani kebakaran SMP Negeri 3 Tomiliyserta satu rumah di wilayah Mootilango.

Situasi semakin padat pada periode 6 hingga 10 September 2026. Dalam rentang waktu tersebut, Damkar kembali menangani delapan kejadian kebakaran lahan dan dua kebakaran gedung.

Di balik respons cepat tersebut, terdapat personel yang bekerja dengan kekuatan terbatas.

Kepala Satpol PP dan Damkar Gorontalo Utara, Retno Gunardi Ishak, mengungkapkan personel operasional saat ini terbagi dalam Tiga regu, dengan masing-masing regu beranggotakan tujuh orang. Ditambah personel lainnya, total kekuatan mencapai sekitar 23 personel.

Kondisi itu membuat setiap laporan kebakaran harus direspons dengan strategi dan kesiapsiagaan tinggi. Sebab, bukan tidak mungkin petugas menerima laporan dari beberapa lokasi dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Untuk penanganan di lapangan, personel kami terus bersiaga dan bergerak setelah menerima informasi kejadian,” kata Retno, Kamis (10/9/2026).

Salah satu tantangan terjadi ketika laporan kebakaran masuk dari wilayah Motinelo, sementara petugas pada saat bersamaan masih harus menangani kejadian lainnya.

Bagi para personel Damkar, kondisi tersebut menjadi bagian dari tugas sehari-hari. Di tengah panas dan keringnya musim kemarau, mereka harus memastikan api tidak semakin meluas dan mengancam permukiman maupun fasilitas masyarakat.

Status siaga penanganan kebakaran lahan sendiri telah diberlakukan sejak Juli 2026.

Kemudian pada 28 Agustus 2026, status kesiapsiagaan ditingkatkan melalui siaga tanggap darurat.

Bupati Gorontalo Utara juga telah menginstruksikan agar seluruh armada Damkar berada dalam kondisi siap digunakan untuk mempercepat respons terhadap setiap laporan masyarakat.

Keberadaan para personel Damkar pun menjadi sangat vital di tengah meningkatnya ancaman kebakaran selama musim kemarau. Dengan jumlah personel yang terbatas, mereka tetap dituntut hadir paling awal ketika api mulai membesar dan menjadi salah satu benteng terakhir untuk mencegah kebakaran meluas.

Karena itu, di balik setiap api yang berhasil dipadamkan, ada kerja keras petugas yang mungkin tidak banyak terlihat. Mereka datang ketika masyarakat menjauh dari api—berjibaku dengan panas, asap dan risiko demi menyelamatkan lahan, rumah hingga keselamatan warga.

Satpol PP dan Damkar Gorontalo Utara mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Aktivitas yang dapat memicu kebakaran, khususnya pembakaran lahan dan sampah secara sembarangan, diharapkan dapat dihindari.

“Sebab, dengan kondisi lahan yang semakin kering, percikan api kecil dapat berubah menjadi ancaman besar,” tutup Retno.

Exit mobile version