Rindu Kampung. Anang S. Otoluwa

Publishare.id- KEMARIN (25/5/2026) beruntung sekali, saya bisa hadir dalam kegiatan Rindu Kampung (Motabi Kambungu) di Ponelo Kepulauan. Ini adalah inovasi Pemda Gorontalo Utara untuk mendekatkan layanan sampai ke pelosok kampung.

Saya menyaksikan langsung bagaimana OPD yang biasanya memberikan layanan di kantor-kantor pemerintahan, kini datang dan memberi layanan di rumah-rumah penduduk. Pada edisi ke-IX ini, inovasi Bupati Thariq Modanggu dan Wakil Bupati Nurjana Yusuf itu benar-benar terasa hidup.

Sekilas, Motabi Kambungu memang mirip konsep mobile government. Semangatnya sama: menghadirkan layanan lebih dekat kepada masyarakat.

Tetapi, setelah saya jalani, Motabi Kambungu memiliki rasa yang jauh lebih dalam daripada sekadar pelayanan publik. Ia bukan hanya tentang membawa layanan ke desa-desa, melainkan tentang menghadirkan kembali kerinduan pada kampung halaman.

Suasana itu mulai saya rasakan begitu tiba di Ponelo Kepulauan. Saya sengaja bermalam, agar suasananya bisa lebih didapat. Dan benar saja, saat perahu merapat, tim Dinkes, Pak Sekda Gorut, Pak Rodham, langsung disuguhi suasana hangat. Suara azan Isya, berkumandang dari pengeras suara masjid desa.

Begitu juga saat berjalan menuju rumah Aba Uyon, tempat kami menginap. Warga tampak menyambut acara esok hari dengan penuh antusias. Di teras rumah, ibu-ibu terlihat riang, seperti menyambut pesta. Sambil bercanda dan bersenda gurau, mereka lincah memilah rempah, memotong sayur, untuk dimasak keesokan pagi. Tidak ada kesan sedang “menyiapkan acara pemerintahan”. Yang terasa, justru seperti keluarga besar yang sedang menanti tamu datang dari kota.

Malam itu juga, kami menikmati ikan bakar segar di pinggir pantai. Sambil menunggu ikan matang dibakar, ibu-ibu menyiapkan dabu-dabu yang diperkaya minyak kelapa kampung. Angin laut yang berhembus seakan ikut mengipas api, yang bersumber dari “gonofu”. Obrolan ibu-ibu mengalir begitu saja tanpa jarak. Sambil bercerita, tangan mereka sibuk membolak-balik ikan bobara di atas bara. Dalam suasana sederhana itu, kampung menghadirkan kemewahan yang tidak bisa dibeli kota, yakni kehangatan antar sesama.

Paginya pun tidak kalah berkesan. Saat kami menikmati pisang goreng hangat, satu per satu ibu-ibu datang masuk ke rumah tempat kami menginap. Ada yang membawa rempah-rempah di tangan. Ada pula yang datang menyusul sambil membawa ayam kampung yang sudah disembelih. Mereka datang bukan karena diminta, tetapi karena merasa ikut memiliki acara itu. Ada ketulusan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Ketika acara seremonial pembukaan dimulai, pemandangan yang paling indah justru bukan dari panggung utama. Yang paling berkesan adalah bagaimana masyarakat berbaur dengan para pegawai yang mengenakan seragam dinas tanpa sekat. Mereka menyatu. Ada yang berdiri, anak-anak jongkok, bercanda bersama, dan serius menikmati acara.

Seperti kebanyakan masyarakat di desa, mereka pun spontan menanggapi jalannya acara. Ketika MC salah menyebut nama orang, mereka langsung membetulkan. Bahkan, ketika ustaz keliru menyebut nama kecamatan dalam doanya, warga langsung gaduh. Semua langsung disambut tawa dan koreksi hangat dari masyarakat. Tidak ada kekakuan.

Dan mungkin, bagian yang paling menyentuh adalah ketika anak-anak SD tampil menari. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa memberi perhatian penuh kepada penampilan itu. Mereka menonton dengan rasa bangga yang sangat nyata.

Seolah-olah dalam hati mereka berkata: “Ini panggung kami. Beginilah kami ingin menunjukkan diri kami. Dan tugas kalian wahai pemerintah, adalah datang dan melihat kami.”

Di situlah saya merasa bahwa Motabi Kambungu benar-benar berhasil menjalankan maknanya.

Ia memang mendekatkan layanan publik kepada masyarakat kampung. Tetapi lebih dari itu, ia memberi ruang kepada warga untuk menunjukkan jati diri mereka: keramahan mereka, makanan mereka, seni mereka, kebersamaan mereka, dan cara mereka memuliakan tamu.

Program seperti ini juga menjadi pengingat bagi banyak orang yang sudah lama hidup di kota. Bahwa kampung bukan tempat yang tertinggal. Kampung adalah tempat di mana manusia masih saling mengenal, saling membantu tanpa diminta, dan masih punya waktu untuk duduk bersama.

Karena itu, kegiatan seperti Motabi Kambungu tidak boleh berhenti hanya sebagai agenda seremonial pemerintah. Ia perlu terus dirawat sebagai ruang perjumpaan antara pelayanan dan kemanusiaan. Agar para pemberi layanan publik tetap memiliki semangat untuk turun langsung ke kampung-kampung. Agar mereka melihat sendiri kehidupan masyarakat yang mereka layani.

Dan yang paling penting, agar masyarakat pun merasa bahwa mereka bukan sekadar penerima layanan, melainkan bagian penting dari panggung pembangunan itu sendiri.

Mungkin itulah sebabnya nama “Rindu Kampung” terasa begitu tepat.

Sebab pada akhirnya, setiap orang selalu punya kerinduan untuk kembali pada suasana yang sederhana, hangat, dan manusiawi. Dan di Ponelo Kepulauan itu, kerinduan itu betul-betul terasa.(*)

Exit mobile version