Jangan Hakimi Program Pemda Pada Proses Tahap Awal

Ketua KTNA Gorontalo Utara, Ismail Udin

Publishare.id – Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Gorontalo Utara, Ismail Udin, memberikan pandangan sekaligus apresiasi terhadap dinamika yang berkembang terkait pelaksanaan program G2-10 di Kabupaten Gorontalo Utara.

Menurut Ismail yang juga merupakan alumni peternakan dari Universitas Negeri Gorontalo, program G2-10 tidak bisa dipandang sebatas program bantuan pemerintah biasa, melainkan sebagai sebuah model bisnis yang dirancang pemerintah daerah untuk menjawab tantangan keterbatasan anggaran serta mendorong masyarakat tetap produktif dan mandiri secara ekonomi.

Ia menjelaskan, di tengah kondisi efisiensi anggaran daerah yang berdampak pada terbatasnya bantuan langsung kepada masyarakat, pemerintah membutuhkan terobosan baru agar masyarakat tetap memiliki peluang usaha dan sumber penghasilan yang berkelanjutan.

“G2-10 hadir bukan sekadar program bantuan, tetapi sebuah model usaha yang dirancang agar masyarakat mampu bertahan dan berkembang melalui sektor peternakan. Ini merupakan langkah inovatif pemerintah daerah dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat,” ujar Ismail.

Ia menilai, karena konsep G2-10 berbasis usaha dan bisnis peternakan, maka program tersebut tentu membutuhkan tahapan uji coba, evaluasi, serta proses percontohan di lapangan. Dari proses itulah kemudian lahir pusat kegiatan G2-10 di kawasan Mini Ranch Tomiloto yang kini mulai menarik perhatian berbagai pihak.

Menurutnya, ketertarikan investor swasta untuk berinvestasi pada usaha kambing dan ayam menjadi salah satu indikator bahwa program tersebut memiliki prospek yang menjanjikan. Selain investor, keterlibatan perguruan tinggi, pejabat pemerintah, hingga investasi perorangan juga menunjukkan adanya potensi pengembangan usaha yang cukup besar.

“Kalau program ini tidak memiliki peluang, tentu tidak akan ada pihak yang tertarik untuk ikut berinvestasi maupun terlibat dalam pengembangannya,” kata, Ismail Udin, Selasa (12/5/2026).

Terkait munculnya sorotan dari sejumlah pihak yang menilai program G2-10 gagal akibat adanya ternak kambing dan ayam yang mati, Ismail menegaskan bahwa risiko kerugian maupun kematian ternak merupakan hal yang lazim dalam dunia usaha peternakan.

Ia menyebut, istilah gagal dan rugi justru sangat dekat dengan dunia bisnis, terutama usaha peternakan yang memiliki tingkat risiko tinggi. Menurutnya, tantangan teknis, kematian ternak, hingga kerugian produksi merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk membangun sistem usaha yang lebih baik dan lebih kuat.

“Dalam dunia usaha, khususnya peternakan, risiko itu pasti ada. Yang terpenting adalah bagaimana melakukan evaluasi dan mencari solusi agar usaha tersebut terus berkembang,” jelasnya.

Ismail menambahkan, berbeda dengan pola bantuan pemerintah yang selama ini hanya bersifat pembagian semata, program berbasis usaha seperti G2-10 menuntut kesiapan semua pihak untuk menghadapi tantangan sekaligus melakukan pembenahan secara berkelanjutan.

Karena itu, ia mendorong agar seluruh persoalan yang muncul dalam pelaksanaan program G2-10 dievaluasi secara menyeluruh demi menemukan solusi terbaik tanpa harus menghentikan program tersebut.

“Tidak ada usaha besar yang langsung berhasil tanpa proses belajar dan evaluasi. Semua membutuhkan tahapan perbaikan. Karena itu saya berharap program ini tidak dihentikan hanya karena menghadapi tantangan di tahap awal,” tegasnya.

Sebagai Ketua KTNA Gorontalo Utara, Ismail juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak saling menyalahkan ataupun memojokkan pihak tertentu atas persoalan yang terjadi. Ia berharap semua pihak dapat berkontribusi menghadirkan solusi demi kepentingan masyarakat dan kemajuan daerah.

“Mari kita melihat G2-10 sebagai ikhtiar bersama dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat Gorontalo Utara. Program ini masih baru, masih berproses, dan masih sangat mungkin untuk diperbaiki serta dikembangkan menjadi model usaha rakyat yang berhasil di masa depan,” pungkasnya.

Exit mobile version