Jadi Korban Broken Home, Anggota Paskibraka Gorut Terancam Putus Sekolah 

Publishare.id— Pagi ini jagat maya dirundung haru setelah beredar kabar mengenai salah satu anggota Paskibraka Kecamatan Sumalata 2025, yang pada bulan Agustus kemarin menjalankan tugas mulianya sebagai Komandan Pasukan sekaligus Pengibar Bendera dalam upacara kenegaraan, ternyata tengah menghadapi masalah keluarga yang cukup serius.

Rizky Aditiya Patamani, Siswa SMA 2 Gorontalo Utara, Remaja yang dikenal disiplin, penuh semangat, dan memiliki jiwa kepemimpinan tinggi itu, diketahui menjadi korban dari keluarga broken home. Kabar ini menyebar cepat dan membuat banyak warganet merasa sedih dan prihatin.

“Pagi-pagi dapat kabar begini, nyesek sekali 😭” tulis seorang warganet di media sosial, sambil menandai wali kelas siswa tersebut.

Informasi ini juga mengundang respons dari pihak sekolah dan guru perwaliannya. Mereka menyatakan rasa bangga sekaligus keprihatinan atas kondisi yang dialami siswanya.

“Anak ini luar biasa. Di balik senyumnya saat upacara, ternyata ada beban berat yang dipikulnya. Tapi dia tetap tegar dan menjalankan tugas negara dengan penuh tanggung jawab,” ungkap sang guru.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, Untuk menyambung hidup, Aditya rela menjadi buruh kasar di salah satu toko bangunan pada hari Sabtu dan Minggu, untuk bisa mendapatkan uang.

” Saya saya Somo mengundurkan diri (Berhenti-red) dari sekolah. Soalnya, susa skli ibu saya Pe papa tidak jaga ba ongkos ibu Di rumah ibu, itupun kalu saya harus b karja dulu ibu di toko bangunan Sabtu Minggu baru ibu ada uang bawa di sekola kalau saya Pe papa tida ba kirim uang jajan ibu, Saya Pe papa lagi ibu so ba bilang kata tidak usah sekolah kalau tidak mampu ibu. Saya Pe orang tua so cerai ibu,” isi chat Aditya kepada ibu perwakilan kelasnya.

Kisah ini kembali mengangkat pentingnya dukungan emosional dan lingkungan keluarga yang sehat, terutama bagi remaja yang sedang dalam masa tumbuh-kembang dan perjuangan mencapai prestasi.

Tagar #SayNoToBrokenHome pun kembali menggema di media sosial, sebagai seruan untuk lebih peduli terhadap kondisi psikologis anak-anak dari keluarga yang tidak utuh, namun tetap memiliki potensi besar untuk berprestasi.

Exit mobile version