Papua Barat Pamerkan Produk Unggulan Hasil Hutan dan Pertanian di PENAS XVII Gorontalo

Stand Pameran Provinsi Papua Barat

Publishare.id – Dinas Kehutanan dan Dinas Tanaman Pangan Provinsi Papua Barat memanfaatkan ajang Pekan Nasional (PENAS) XVII yang dipusatkan di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, untuk memperkenalkan beragam produk unggulan hasil hutan dan pertanian kepada masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, Sabtu (20/6/2026).

Pada stand pameran Papua Barat, pengunjung disuguhkan berbagai produk khas yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta menjadi andalan masyarakat setempat. Produk-produk tersebut mendapat perhatian karena mencerminkan potensi sumber daya alam yang melimpah sekaligus hasil kreativitas masyarakat dalam mengolah komoditas lokal.

Kepala Bidang Perlindungan dan Penyuluhan Kehutanan Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, Firaun Olo, mengatakan bahwa keikutsertaan dalam PENAS XVII menjadi momentum penting untuk mempromosikan hasil hutan dan pertanian unggulan Papua Barat kepada peserta dari seluruh Indonesia.

“Untuk kegiatan PENAS ke-XVII kali ini, kami bersama Komisi Perlindungan Hutan Provinsi Papua Barat menampilkan berbagai macam produk unggulan seperti briket arang Warkamah, buah pala, Coffee Arfak, sirup buah pala, kerupuk sagu, dan tepung sagu,” ujarnya saat diwawancarai di lokasi pameran.

Menurut Firaun, produk-produk yang dipamerkan tidak hanya memiliki kualitas yang baik, tetapi juga merupakan hasil pemberdayaan masyarakat yang terus didorong melalui berbagai program pembinaan dan pendampingan.

Sementara itu, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Fakfak, Taib Wasaraga, mengungkapkan bahwa pihaknya turut menghadirkan sejumlah produk hasil hutan bukan kayu yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi komoditas unggulan daerah.

“Pada PENAS kali ini kami menampilkan beberapa produk hasil hutan non-kayu seperti getah damar, pelepah kayu masohi yang diekstrak menjadi minyak urut, limbah kayu besi yang diolah menjadi briket arang, kopi dari Pegaf, serta manisan pala khas Fakfak,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan hasil hutan non-kayu menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya hutan tanpa harus melakukan eksploitasi kayu secara berlebihan. Selain ramah lingkungan, produk-produk tersebut juga mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

“Keikutsertaan Papua Barat dalam PENAS XVII diharapkan dapat memperluas jaringan pemasaran produk lokal, menarik minat investor, serta memperkenalkan kekayaan hasil hutan dan pertanian Papua Barat kepada khalayak yang lebih luas,” pungkasnya.

Exit mobile version